Riwayat Hidup Kyai Makmur Pemalang (2)

Setelah lulus dari HIS pada tahun 1921 atau ketika umur makmur remaja berusia 14 tahun. Sebagai anak seorang ulama terpandang kala itu orang tua kyai makmur memutuskan agar makmur memperdalam pengetahuan agamanya di Pondok Pesantren.

Pondok pesantren pertama sebagai tujuannya adalah pesantren di wilayah Godong, Grobogan kurang lebih 40Km sebelah timur Kota Semarang dan selanjutnya ke Pondok Pesantren di Wilayah Kabupten Demak. Tidak ada catatan pasti nama pondok dan desa dimana kedua pesantren itu berada dan siapa pengasuh ketika makmur nyantri di kedua pesantren tersebut, dan perlu dikethui bahwa biasanya santri atau orang tua santri akan menitipkan disebuah pesantren karena faktor kiai atau pengasuhnya, reputasi pengasuh sangat mempengaruhi pertimbangan seseorang untuk belajar dipesantren, kharisma kiai begitu kental sebagai daya tarik. Sangat mungkin apabila kyai makmur nyantri di pesantren ternama pada zamannya di kedua daerah tersebut, namun makmur tidaklah lama menetap dikedua pondok tersebut hanya krang lebih 1 tahun dan kemudian memutuskan untuk boyong dan kembali ke pelutan kampung halamannya. Tidak diketahui apa yang mendorong makmur untuk boyong hanya setelah 1 tahun belajar di kedua pesantren tersebut.

Tidak lama makmur berdiam diri dirumah pada tahun 1922 beliau dikirim oleh orang tuanya kembali masuk pesantren. kali ini pilihan pesantren jatuh pada pesantren jamsaren surakarta yang diasuh oleh ulama besar bernama KH. Idris tokoh seangkatan KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama di pesantren asuhan kyai saleh darat semarang.

Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta Berdiri pada tahun 1750. Sekarang pesantren tersebut di bawah Yayasan Perguruan Al Islam Surakarta. Pondok pesantren Jamsaren berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo. Ponpes ini pertama berdiri sekitar tahun 1750. Dalam sejarahnya, pondok ini melewati dua periode, setelah mengalami kevakuman hampir 50 tahun, antara 1830 – 1878.
Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas). Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau tersebut. Tentu lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Di tangan Kiai Idris inilah Jamsaren mencapai puncaknya.

Selain mengelola Ponpes Jamsaren, Kiai Idris saat itu juga mengelola Madrasah Mamba’ul Ulum yang didirikan Kraton Surakarta. Sejumlah tokoh pergerakan nasional dari berbagai daerah tercatat pernah belajar di madrasah tersebut. Sedangkan di Jamsaren, ribuan santri dari berbagai penjuru Asia Tenggara datang berguru kepada Kiai Idris yang dikenal sangat ‘alim dan juga menjadi mursyid Thariqah Naqsyabandiyah tersebut.


Di antara nama-nama besar yang pernah nyantri Kiai Idris adalah Kiai Mansyur (pendiri Ponpes Al-Mansyur Klaten), Kiai Dimyati (pendiri Ponpes Termas, Pacitan), Syeich Ahmad al-Hadi (tokoh Islam kenamaan di Bali), Kiai Arwani Amin (Kudus), Kiai Abdul Hadi Zahid (pengasuh Ponpes Langitan).

Bahkan setelah Kiai Idris wafat pada tahun 1923, nama besar Jamsaren masih menjadi rujukan bagi para orangtua untuk mengirim anaknya nyantri. Banyak tokoh besar tanah air merupakan lulusan atau pernah belajar agama secara intens di Jamsaren generasi berikutnya.

Sebut saja misalnya Munawir Sadzali (mantan Menag), Amien Rais (mantan Ketua MPR), KH Zarkasyi (pendiri Ponpes Gontor), KH Hasan Ubaidah (pendiri dan pimpinan LDII) serta sejumlah nama lainnya. Jamsaren, sebuah pesantren kuno yang telah menyemai tumbuhnya banyak tokoh di negri ini.

Tokoh sentral yang terakhir memimpin pesantren ini adalah KH Ali Darokah. Setelah KH Ali Darokah wafat tahun 1997, Jamsaren dipimpin oleh sebuah dewan sesepuh. Sedangkan sebagai pelaksana keputusan, semua kegiatan dipimpin Mufti Addin selaku lurah pondok.

ilustrasi

Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Jamsaren kemudian bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al Islam Surakarta. Kini, sebagian besar santrinya adalah siswa SMP dan SMA Al Islam Surakarta.

Namun sayangnya, meskipun pernah disinggahi banyak ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), Pondok Jamsaren hampir tak terlihat lagi kultur ke-Aswajaannya. Hal ini menurut penghulu kraton disebabkan karena pada perkembangannya jarang ada ulama, khususnya dari golongan ulama Aswaja, yang mau mendekat ke kraton, seperti yang dilakukan wali songo atau ulama kraton zaman dulu.

Di pesantren Jamsaren Makmur belajar ditemani beberapa teman seperti Jamil dari Kademangan Kebondalem yang nantinya menjadi Guru Para kyai di Pemalang, Komar Zen Kakak Sepupunya, Mursidi, Zaenal Abidin, Nahrowi dari Pelutan dan Sidiq dari Kauman yang merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Kauman Pemalang di sebelah selatan Masjid Agung Pemalang. Makmur belajar di pesantren ini selama 3 tahun dan boyong pada tahun 1925 atau ketika makmur berumur 19 tahun.

Sekembalinya dari Jamsaren tidak selang berapa lama makmur memutuskan untuk menimba Ilmu lagi. Kali ini pesantren pilihannya adalah Pondok Pesantren Tebuireng dibawah asuhan Khadratussyaikh KH. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama yang juga teman seangkatan KH. Idris pengasuh Ponpes Jamsren surakarta yang telah disinggung pada paragraf sebelumnya.

Tebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektar ini kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh Kiai Hasyim.

Menurut penuturan masyarakat sekitar, nama Tebuireng berasal dari kata ”kebo ireng” (kerbau hitam). Konon, ada seorang penduduk yang memiliki kerbau berkulit kuning. Suatu hari, kerbau tersebut menghilang dan setelah dicari kian kemari, kerbau itu ditemukan dalam keadaan hampir mati karena terperosok di rawa-rawa yang banyak dihuni lintah. Sekujur tubuhnya penuh lintah, sehingga kulit kerbau yang semula berwarna kuning kini berubah menjadi hitam. Peristiwa ini menyebabkan pemilik kerbau berteriak ”kebo ireng …! kebo ireng …!” Sejak sat itu, dusun tempat ditemukannya kerbau itu dikenal dengan nama Kebo Ireng.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika penduduk dusun tersebut mulai ramai, nama Kebo Ireng berubah menjadi Tebuireng. Tidak diketahui dengan pasti kapan perubahan itu terjadi dan apakah hal itu ada kaitannya dengan munculnya pabrik gula di selatan dusun tersebut, yang banyak mendorong masyarakat untuk menanam tebu? Karena ada kemungkinan, karena tebu yang ditanam berwarna hitam maka dusun tersebut berubah nama menjadi Tebuireng.

Karena kemasyhurannya, para kiai di tanah Jawa mempersembahkan gelar ”Hadratusy Syeikh” yang artinya ”Tuan Guru Besar” kepada Kiai Hasyim. Beliau semakin dianggap keramat, manakala Kiai Kholil Bangkalan yang dikeramatkan oleh para kiai di seluruh tanah Jawa-Madura, sebelum wafatnya tahun 1926, telah memberi sinyal bahwa Kiai Hasyim adalah pewaris kekeramatannya. Diantara sinyal itu ialah ketika Kiai Kholil secara diam-diam hadir di Tebuireng untuk mendengarkan pengajian kitab hadis Bukhari-Muslim yang disampaikan Kiai Hasyim. Kehadiran Kiai Kholil dalam pengajian tersebut dinilai sebagai petunjuk bahwa setelah meninggalnya Kiai Kholil, para Kiai di Jawa-Madura diisyaratkan untuk berguru kepada Kiai Hasyim.

Perpindahan makmur dari satu pesantren ke pesantren lainnya tidaklah mengherankan bagi orang yang sedang dimabuk ilmu. Internalisasi ajaran islam yang dia pahamai dan sebagai akibat dari ajaran pesantren yang mengajarkan dan menekankan pada santri-santrinya untuk terus menerus berkelana dari satu pesantren ke pesanten lainnya, santri akan dikatakan sebagai thalibul ilmu (pencari ilmu) agar mencari guru yang paling masyhur dalam berbagai cabang ilmu dengan demikian pengembaraan merupakan ciri utama kehidupan pengetrahuan di pesanten dan menyumbangkan terbangunnya kesatuan sestem pendidikan pesantren dan sebagai orang jawa makmur mencari hakikat kehidupan (wisdom) yang sungguh telah menghujam dalam sanubarinya.

Dari kyai menjadi Bupati Pemalang…. Bersambung

Abu Joharudin Bahry, M.Hum Sekretaris PCNU Kab. Pemalang

3 thoughts on “Riwayat Hidup Kyai Makmur Pemalang (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *